Panduan Sholat Bagi Penderita Kelumpuhan

Panduan Sholat Bagi Penderita Kelumpuhan

Sholat merupakan amalan yang kedua dalam rukun islam. Sholat adalah amalan yang pertama kali dihisab. Sholat merupakan amalan yang terpenting setelah iman. Amalan ini wajib dikerjakan bagi seseorang muslim yang sudah baligh dan berakal. Sesungguhnya, sholat mempunyai kaitan yang begitu intim dengan iman. Sholat adalah penentu sama ada seseorang itu beriman atau kufur.

Sekiranya seseorang yang menjaga sholatnya, maka dia adalah orang yang beriman. Sedangkan jika seseorang meninggalkan sholat maka dia adalah orang yang kufur. Nauzubillahimin zalik! Ada lima sholat yang wajib dijalankan oleh seorang muslim yaitu shubuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya.

Diantara kewajiban agung yang harus dilakukan orang yang sakit adalah sholat. Agama islam, sebagai agama yang rahmatan lil alamin menganut prinsip memudahkan pemeluknya. Dalam sholat misalnya, umat muslim mengenal adanya keringanan melaksanakan gerakan sholat secara menyeluruh apabila berada pada kondisi tidak normal dan keadaan darurat.

Bila tidak bisa berdiri, maka umat muslim diperbolehkan duduk. Apabila tidak bisa duduk, maka diperbolehkan sholat dalam keadaan berbaring. Lalu bagaimana dengan orang yang mengalami kelumpuhan?

Kelumpuhan, merupakan kondisi ketika satu atau beberapa bagian tubuh tidak dapat digerakkan. Selama seseorang berakal sehat, maka kewajiban sholat tidak gugur darinya. Sebelum melaksanakan sholat, tentunya harus bersuci terlebih dahulu. Mari, ketahui bagaimana tata cara bersuci bagi penderita kelumpuhan.

Tata Cara Bersuci

Seseorang yang mengalami kelumpuhan, seringkali memiliki masalah teknis. Terutama dalam melakukan aktivitas yang membutuhkan gerakan. Meskipun begitu, kewajiban melaksanakan ibadah yang diperintahkan oleh syara’, tidak gugur darinya selama seseorang berakal sehat.

  1. Jika mampu dibantu untuk berwudhu, sedangkan jika tidak mampu maka diganti dengan tayammum.
  2. Kesucian badan, pakaian, dan tempat dari najis termasuk kewajiban yang penting dalam melaksanakan sholat. Maka dari itu, ketika akan melaksanakan sholat popok yang dipakai orang sakit harus dibuka dan diganti.
  3. Dalam bersuci, seseorang yang mengalami kelumpuhan diperbolehkan meminta pertolongan orang lain agar menyiramkan air pada anggota tubuh yang akan dibasuh. Dengan ketentuannya, penyiraman air dilakukan sesuai urutan membasuh anggota wudhu.
  4. Kemudian, niat bersuci tetap dilafalkan oleh seseorang yang lumpuh di dalam hatinya. Sebab dalam hal niat, tidak dapat diwakilkan orang lain.
  5. Apabila kasusnya berbeda, ketika anggota tubuh orang yang lumpuh akan berbahaya apabila terkena air, seperti akan memperparah penyakit atau memperburuk kondisi kesehatan. Maka, kewajiban wudhu baginya diganti dengan tayammum.
  6. Pelaksanaan tayammum baginya, sama halnya dengan pelaksanaan tayammum secara umum. Apabila tidak mampu melaksanakannya sendiri, maka dapat meminta pertolongan orang lain.

Dengan demikian, bersuci bagi seseorang yang mengalami kelumpuhan tetap wajib dilaksanakan dalam rangka menghilangkan hadats.

Panduan Sholat

Syari’at islam, dibangun di atas dasar ilmu dan kemampuan orang yang dibebani. Tak ada satu pun beban yang diwajibkan kepada seseorang di luar kemampuannya. Panduan sholat orang yang sakit yaitu sesuai dengan kemampuannya.

  1. Bagi seseorang yang seluruh anggota tubuhnya sudah tak dapat berfungsi, namun matanya masih berkedip maka sholatnya dapat dilakukan dengan gerakan mata. Seseorang dapat mengedipkan matanya sedikit, ketika takbir dan rukuk serta dapat dikedipkan banyak ketika sujud.
  2. Gerakan mata itu, jika dimungkinkan boleh disertai dengan gerakan lisan ketika membaca bacaan sholat. Namun, apabila lisan tidak mampu digerakkan, maka bacaan sholat dapat dilafalkan dalam hati.
  3. Perkara yang perlu diingatkan, bahwa orang sakit wajib menunaikan sholat pada waktunya sesuai dengan kemampuannya. Jika mampu berdiri, maka sholatlah dengan berdiri namun, apabila tidak mampu baik laki-laki maupun perempuan maka sholat dengan duduk, dengan cara bersila atau duduk biasa/ duduk sesuai dengan keadaannya.

Sebagaimana bila juga berat berpuasa bagi orang yang sedang sakit walaupun masih diperbolehkan berbuka dan tidak berpuasa, maka demikian juga bila susah berdiri maka diperbolehkan sholat dengan duduk.

  1. Jika tidak mampu duduk, maka sholat dapat dilakukan sambil berbaring miring. Apabila mudah maka berbaring pada sisi yang kanan, jika kesulitan berbaring pada sisi yang kiri.

Apabila miring ke kanan lebih mudah, maka itu yang lebih utama. Sedangkan apabila miring ke kiri itu termudah, maka itu yang lebih utama. Namun, jika kedua-duanya sama mudahnya, miring ke kanan lebih utama.

  1. Jika tidak mampu, maka sholatlah dalam keadaan terlentang dan kedua kakinya ke arah kiblat. Karena hal ini, lebih dekat pada cara berdiri. Misalnya saja, apabila kiblatnya ke arah barat, maka letak kepalanya disebelah timur dan kakinya di arah barat.
  2. Jika tidak mampu ke arah kiblat dan tidak ada yang mengarahkan atau membantunya ke kiblat, maka melaksanakan sholat sesuai keadaannya tersebut.
  3. Seseorang yang mengalami kelumpuhan, apabila tidak mampu melakukan seluruh keadaannya diatas, tidak mampu menggerakan anggota tubuhnya dan tidak mampu pula dengan matanya, maka dapat sholat dengan hatinya.

Itu dia penjelasan mengenai panduan sholat bagi penderita kelumpuhan serta cara bersucinya yang perlu diketahui. Semoga ini menjadi pengingat untuk terus meningkatkan keimanan dengan melaksanakan solat. Untuk belajar lebih banyak tentang agama Islam lainnya bisa di cek di fataya.co.id.